Kalau dikira-kira, sudah 5 tahun lebih saya hobi mengikuti berbagai macam kuis/kontes yang diselenggarakan via media sosial. Kebanyakan kuis yang saya ikuti seputar kontes foto (dengan objek manusia atau pun hasil kreasi karya sendiri) dan cerita, yang hanya sebatas saya upload di akun media sosial penyelenggara.

Sekitar 1 tahun belakangan, saya kepo sama dunia blog. Berawal dari mengunjungi blog mbak Widyanti Yuliandari untuk mengenal lebih jauh tentang pola makan Food Combining, sampai akhirnya saya “nyemplung”lebih dalam di dunia para blogger, dengan bergabung di komunitas online mereka. Dari sini, saya bisa berteman dengan lebih banyak blogger, walau hanya sebatas saling  follow. Di samping itu, saya bisa belajar sedikit-sedikit tentang blog dengan mengunjungi blog mereka.

Salah satu aktivitas rutin kuter (sebutan untuk para pencari & pecinta kuis, singkatan dari kuis hunter) adalah mencari info kuis yang sedang berlangsung. Kalau kalian ada yang berminat jadi kuter bisa tuh follow twitter akun penyebar info kuis, seperti SerbaKuisInfoKuis. Kembali ke cerita. Saya tertarik untuk mengikuti sebuah kuis blog yang diadakan Kompasiana karena materi kuisnya saya anggap ringan (dekat dengan kehidupan sehari-hari), saya putuskan untuk berpartisipasi. Demi itu, saya pun membuat akun Kompasiana. Gampang kok! Tinggal ikuti saja alur perintahnya. Akun Kompasiana sudah jadi.

Beberapa hari sebelum deadline alias batas akhir pengumpulan karya tulis blog, niat buat nulis baru muncul. Kayak nunggu wangsit aja yaah! Sebelum-sebelumnya, kayaknya terlalu sibuk buat intip karya peserta lain yang sudah didaftarkan. Maksud saya sekalian cari ide, sekaligus belajar bagaimana menulis yang menarik dari mereka-mereka yang dugaan saya sudah lebih mahir nulis blog. Ide sudah dapat. Sudah juga dibuat cerita. Foto pendukung, juga beres. Dan semua materi sudah siap diunggah di hari H, hari terakhir kontes.

Siang hari, lewat tablet, saya coba buka akun Kompasiana saya. Tapi lemot alias lambat banget. Saya pikir hanya masalah koneksi internet. Sampai akhirnya berhasil juga setelah berkali-kali “maksa” login. Tapi, ketika saya berniat membuka materi yang sudah saya simpan di draft, eh nggak bisa-bisa. Berulang saya coba. Sampai sore, akhirnya baru ngeh kalau ada pemberitahuan di beranda Kompasiana bahwa admin Kompasiana sedang bebenah website-nya. Intinya begitu. Nah, itu yang jadi biangnya lemot tadi. Lah terus, kontes blog saya gimana nasibnya???

Sampai malam pun, saya coba utak-atik Kompasiana, berharap masalah teknisnya sudah kelar. Tapi ternyata belum “sehat” juga website-nya. Masanggak jadi  upload ? Mubadzir dong materi blognya! Berlanjut hingga keesokan harinya. Deadline kontes blognya sudah lewat. Penasaran, apa Kompasiana sudah membaik atau belum, jadi saya coba login lagi. Ternyata kondisi Kompasiana sudah oke lagi. Yeay!! Tanpa pikit panjang, terserah kalau juri diskualifikasi saya gara-gara telat kumpulkan materi kontes, akhirnya saya submit tulisan.

Namanya juga pengalaman pertama ikut kontes blog 😅 Jadi saya menemukan banyak hal baru. Oke, dari hal-hal baru itu, saya bisa menyimpulkan beberapa hal penting berikut ini.

Persiapan matang, jangan mepet deadline!

Kontes blog itu (menurut saya) lebih ribet dibandingkan kontes foto atau cerita karena butuh materi berupa foto sekaligus cerita untuk bisa menyuguhkan suatu karya blog yang informatif. Karena ribetnya itu loh, pantas deh kalau hadiah kontes blog terbilang besar jika dibandingkan kontes lainnya. Butuh waktu yang lebih panjang untuk persiapan, sebelum men-submit materi blog. Seperti cerita saya di atas tentang website Kompasiana yang dalam perbaikan sehingga tidak bisa digunakan secara optimal, sebenarnya hal itu bisa dimaklumi. Toh, pihak Kompasiana melakukan perbaikan juga untuk kenyamanan pengguna kan?! Nah, dari situ, saya punya catatan, kalau bisa submit materi blog lebih awal, kenapa harus ditunda-tunda?

Lebih baik laptop, bukan tablet.

Setiap gadget punya kelebihan masing-masing. Nah, kalau untuk membuat blog, saya rasa dengan laptop jauh lebih leluasa dan mudah pengoperasiannya dibanding dengan tablet apalagi handphone yang punya layar tampilan lebih kecil. Seingat saya juga, kalau menulis artikel di Kompasiana dengan tablet, saya tidak bisa menggunakan opsi tombol yang tampak di layar, seperti tombol bold (untuk menebalkan tulisan), italic (untuk membuat tulisan miring) dan bahkan untuk memasukkan gambar.

Verifikasi profil.

Awalnya, saya hanya iseng-iseng buka menu pengaturan di Kompasiana. Dan ternyata di situ, sebagai Kompasianer (sebutan untuk member Kompasiana) kita diminta untuk melengkapi identitas diri. Identitas yang diminta memang banyak dan detail, termasuk nomor KTP beserta scan-nya, alamat rumah, telepon. Dan butuh beberapa hari setelah saya mengisi identitas, admin Kompasiana akhirnya memberikan status Terverifikasi untuk akun saya. Sempat terpikir, kalau misalnya blog yang kita submit dinilai bagus, tapi akun belum terverifikasi, bagaimana?! Lebih baik urusi dulu verifikasi profilnya deh!

Ribet? Iya! Tapi ikut kontes blog jadi tantangan baru buat saya. Mungkin belum terbiasa saja. Kalau teman-teman pembaca punya akun Kompasiana jangan lupa ya follow AKUN SAYA 🙂 InsyaAllah saya folbek.

Terima kasih sudah berkunjung…

Iklan

2 tanggapan untuk “Pengalaman Pertama Ikut Kontes Blog

  1. Aku masih sering jadi Deadliner…😀😀 alasannya nunggu wangsit tadi mbak. Aku ndaftar kompasiana, kok gagal mlulu ya mb.. Pke hape sih.. Blm nyoba lg pke netbook

    Suka

Punya komentar? Silakan... :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s